Selama dua tahun terakhir, saya banyak berbicara tentang ruang digital sebagaimana seseorang memikirkan sebuah bangunan fisik. Saya tidak selalu berpikir seperti itu. Awalnya, ruang digital adalah ruangan luas dengan batas yang tak nyata. Lebih seperti angin daripada ruang tamu. Seiring waktu, saya menyadari bahwa hal itu tidak benar. Sama seperti pikiran saya meliputi ruangan fisik, kini pikiran saya juga meliputi ruang digital. Memang pintu ruang digital lebih terbuka di sebagian besar waktu, tetapi dengan usaha dan niat yang disengaja, Anda dapat menarik keluar ruang bagian dalam dari lautan yang tak terhingga dengan gelombang yang kabur dan tidak terduga.
Apa yang terjadi benar-benar unik, dan saya tidak tahu bagian mana dari otak manusia yang melakukannya, tetapi ini luar biasa. Anda mulai beresonansi dengan ruang digital dengan cara yang terasa familier. Terasa seperti rumah. Ada kenyamanan saat memasuki ruang itu. Tingkat stres menurun, senyuman muncul, dan kenyamanan mulai terasa. Seperti duduk di kursi favorit Anda dengan buku yang bagus.
Ruang Nyaman vs. Ruang Tidak Nyaman
Pikiran kita menghubungkan titik-titik dalam ruangan fisik sepanjang waktu. Pikirkan ruangan yang membuat Anda nyaman dan bagaimana rasanya. Ruangan saya secara fisik adalah kantor di lantai bawah, kursi tempat saya membaca setiap hari di ruang makan, dan ruang streaming saya. Saya berada di kantor lantai bawah saat ini. Ini adalah tempat kecil yang hangat dan nyaman, dipenuhi dengan beberapa karya seni favorit saya, ruangan yang kedap suara untuk melindungi saya dari kebisingan anak-anak saat bekerja, serta kursi kantor yang nyaman yang saya beli saat penawaran Black Friday di Amazon.
Sekarang, pikirkan tempat-tempat yang memiliki efek sebaliknya. Mungkin itu kantor Anda di tempat kerja, ruangan tempat Anda mengadakan pertemuan dewan, atau ruang praktik dokter gigi Anda. Ada sesuatu di ruang itu yang membuat Anda merasa tidak nyaman, tegang, atau stres. Saya yakin ada banyak psikologi di balik perasaan-perasaan ini yang sama sekali tidak saya sadari, tetapi yang unik adalah otak memiliki kemampuan untuk mengasosiasikan perasaan dengan ruang digital sama seperti yang dilakukannya dengan ruangan fisik.
Salah satu ruang digital yang dikenal memiliki lingkungan toksik yang membuat orang tegang dan stres adalah game populer bernama League of Legends. Kita tidak perlu membahas latar belakangnya, tetapi game ini dikenal menimbulkan kecemasan pada pemainnya.
Ada berbagai alasan orang-orang mengaitkan perasaan tertentu dengan tempat tertentu, tetapi banyak di antaranya terkait dengan hubungan. Ruang kerja Anda di kantor membuat Anda merasa tidak nyaman karena Anda merasa bos Anda tidak dapat diprediksi dan sulit dibaca. Anda merasa cemas saat masuk ke gereja karena pengalaman pelecehan rohani yang Anda alami saat kecil. Anda merasa tenang dan bebas saat masuk ke rumah teman karena kedalaman hubungan Anda dengan mereka.
Ruang digital juga dapat memicu perasaan yang sama, terutama berdasarkan hubungan yang Anda bangun dengan ruang tersebut. Masih ragu? Catat perasaan Anda saat membuka email, saat menggulir Facebook (atau platform media sosial favorit Anda), dan saat membuka game favorit di ponsel Anda. Anda tidak hanya pergi ke tempat-tempat itu untuk mendapatkan dorongan endorfin. Anda pergi ke sana karena tempat-tempat itu familier dan memicu respons emosional. Beberapa respons itu karena ruang tersebut dirancang untuk membuat Anda merasa seperti itu, dan beberapa lainnya karena hubungan yang terhubung dengan ruang tersebut.
Mungkin analogi lain bisa membantu, meskipun kita harus mengakui bahwa semua analogi pada akhirnya akan memiliki kelemahan. Bayangkan berjalan keluar dari Walmart pada malam hari dan mencari mobil Anda di bagian belakang parkiran. Mungkin Anda tidak merasa takut, tetapi Anda juga tidak merasa aman. Sekarang bayangkan masuk ke rumah Anda. Kenyamanan ruang yang familier, aroma yang familier, dan hubungan yang familier menciptakan lingkungan di mana Anda merasa nyaman. Selama lantai tidak dipenuhi dengan Lego anak-anak saya, saya dapat menjelajahi rumah dengan aman tanpa perlu lampu. Saya mengenal ruang tersebut dan merasa nyaman di sana.
Mengapa?
Mengapa satu ruang terasa tidak nyaman dan tidak aman, sementara yang lain membuat saya merasa tenang? Ada beberapa alasan yang jelas, dan saya yakin kita masing-masing bisa menemukannya dengan cepat. Kebiasaan, hubungan yang dipercaya, dan sebagainya. Namun, salah satu alasan utama adalah batas-batas yang diciptakan oleh dinding rumah saya. Di dalam batas-batas rumah saya, saya merasa lebih nyaman dan aman. Di area parkir tidak ada batas yang jelas sehingga terasa kurang aman dan nyaman, meskipun kemungkinan besar sama amannya dengan masuk ke rumah saya.
Inilah intinya. Jika Anda ingin membangun komunitas digital dengan gereja Anda dan membuat murid-murid digital, Anda membutuhkan alat yang memungkinkan Anda membangun dinding digital.
Begitu juga dengan ruang digital. Internet adalah area parkir tanpa batas yang penuh dengan ketidakpastian dan wajah-wajah asing. Jika Anda tidak bisa membangun dinding, lautan digital yang tak berujung itu akan terus terasa tidak aman dan asing. Jika Anda ingin menciptakan komunitas digital dan pengikut digital, Anda perlu menggunakan alat yang memungkinkan Anda membangun dinding digital, mungkin memasang jendela, dan tentu saja memasang pintu dengan kunci. Facebook melakukannya dengan baik pada awalnya. Itu adalah komunitas tertutup yang memungkinkan Anda mengkurasi segala sesuatu yang Anda lihat saat mengunjungi. Profil Anda adalah rumah Anda, dan Anda hanya melihat dan berbagi dengan orang-orang yang Anda setujui. Ada beberapa alat dasar untuk membangun dinding digital yang memungkinkan Anda membuat rumah digital kecil. Seiring waktu, Facebook mulai menampilkan iklan dan konten yang tidak diinginkan dari orang-orang yang bukan teman Anda. Mereka ingin Anda memperluas penggunaan platform tersebut, tetapi dalam prosesnya, mereka mendorong orang dan ide melalui pintu digital Anda yang ingin Anda hindari. Platform tersebut menjadi kurang dapat diprediksi, kurang aman, dan karenanya kurang dipercaya.
Kesimpulan
Inilah intinya. Jika Anda ingin membangun komunitas digital dengan gereja Anda dan membuat murid-murid digital, Anda membutuhkan alat yang memungkinkan Anda membangun dinding digital. Ada beberapa platform di luar sana yang memberikan alat-alat tersebut, dan masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Altar Live adalah platform yang bagus untuk kampus digital gereja secara keseluruhan, tetapi Anda perlu strategi untuk membuat orang mengadopsinya. Facebook masih memberikan alat menggunakan halaman dan grup, dan sebagian besar dunia sudah memiliki akun, tetapi sebagian besar orang juga membenci Facebook. Discord memberikan alat, kotak alat, truk, dan tab di toko hardware, tetapi sulit dipahami dan sulit membuat orang menggunakannya jika mereka bukan generasi digital atau bagian dari komunitas gaming. Ada beberapa aplikasi bagus yang sedang dikembangkan, dan bahkan beberapa seperti Carry Bible App yang bisa Anda mulai gunakan hari ini jika Anda ingin mencoba platform yang belum mapan. Platform VR memberi Anda dinding digital yang sebenarnya untuk dipasang, tetapi tidak semua orang memiliki headset (belum).
Saya harap ini membantu Anda memahami pentingnya komunitas digital, ruang digital, dan alat yang Anda gunakan untuk menciptakannya. Ada banyak peluang bagus untuk secara sengaja merancang rumah digital saat ini. Siaran langsung Anda hanyalah permulaan. Ambil sabuk alat, palu, paku, dan gypsum. Kita punya dinding yang harus dipasang.
Ingin menggali lebih dalam? Saya membahas komunitas digital dan ruang digital dalam episode terbaru Online Church Blueprint. Anda dapat menemukannya di mana pun Anda mendengarkan podcast atau menggunakan tautan YouTube ini.
Apa pendapat Anda? Bagikan ide Anda di bawah ini atau di media sosial.
Melalui Digital Church Network, kami membantu gereja fisik dan digital memahami proses pembinaan rohani dengan lebih baik, serta membantu gereja dan pendiri gereja memahami pergeseran pola pikir desentralisasi ini dan lainnya. Bergabung dengan DCN secara gratis dan dapatkan motivasi!
Mencari Pelatih atau Panduan untuk membantu Anda dengan media sosial dan alat-alat pelayanan digital lainnya? Isi survei singkat ini dan hubungi kami hari ini. (t/Jing-jing)
| Diambil dari: | ||
| Nama situs | : | The Church Digital |
| Alamat artikel | : | https://be.thechurch.digital/blog/digital-spaces |
| Judul asli artikel | : | Creating Digital Spaces at Your Church |
| Penulis artikel | : | Tim The Church Digital |